Jumat, 24 Mei 2019

Keluarga Bani Abdul Qahar Kajen


KETURUNAN
MBAH ABDUL QAHAR



Yang dimaksud dengan “keturunan” dalam tulisan ini adalah seluruh keluarga yang berasal dari mBah K.H. Abdul Qahar dan isterinya, mBah Hj. Halimah, yang meliputi anak-anak, cucu, dan anak-cucunya.
Al-Qur`ân menyebut “keturunan” dengan istilah dzurriyyah (ذرّيّة) yang berarti “keturunan”[1], dan terma bani (بني) yang berarti anak-cucu[2]. Dalam al-Qur`ân setidaknya terdapat 28 kata dzurriyyah dalam bentuk tunggal (mufrad) dan tiga kali dalam bentuk plural (jama’). Dalam konteks ini terma yang dipergunakan untuk menyebut keturunan mBah Abdul Qahar adalah terma BANI sebagaimana yang lazim berlaku di Indonesia, karena lebih mudah diucapkan dan memiliki makna yang paling dekat dengannya.
Sebagai pasangan manusia yang sehat jasmani-ruhani, mBah Abdul Qahar menjalankan tugas kemanusiaannya secara fithriyyah hingga mempunyai keturunan yang banyak jumlahnya. Fithrah mana seperti tersebut dalam firman Allâh: 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ... (النساء: 1)
[3]
(Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allâh menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allâh memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. …)

Berdasarkan keterangan dan pengakuan para cucunya, mBah Abdul Qahar yang beristeri mBah Hj. Halimah dikaruniai tujuh anak yang masing-masing telah berkeluarga dan mempunyai cucu, kecuali Ahmad. Ketujuh anak mBah Abdul Qahar seluruhnya adalah mBah ABDUL BARI, mBah AHMAD[4], mBah SHALIHAH[5], mBah HADZIQ SIRODJ, mBah MUHAMMAD MASRUKHIN, mBah MAS’AMAH, dan mBah MUZAMMIL.
Dari mereka itulah kini mBah Abdul Qahar telah mempunyai banyak keturunan (bani, dzurriyyah, anak-cucu) yang jumlahnya relatif banyak sebagaimana dapat diketahui dalam lembar-lembar berikut ini.


6
-------------------


[1] Misalnya: dzurriyyah thayyibah (ذرية طيبة) berarti keturunan yang baik (Ali ‘Imran: 38).
[2] Misalnya: bani Adam (بني آدم) berarti anak-cucu Adam (manusia), dan bani Isra-il (بني إسرآئيل) yang sering disebut dalam al-Qur`ân..
[3] Q.S. 4 (an-Nisa`): 1.
[4] Meninggal di Mekkah setelah dilahirkan beberapa saat kemudian.
[5] Beliau menikah dengan mbah Supardi asli Waturoyo Pati. Tidak banyak cerita yang bisa terekam mengenai mBah Shol karena setelah sepekan beliau melahirkan putera pertamanya (Noor Hamid, yang kini, menurut cerita, hidup di Kalimantan sebagai guru bersama isterinya yang berasal dari Blora), beliau meninggal dunia dengan tenang.

Biografi mBah Abdul Qahar Kajen


RIWAYAT
MBAH ABDUL QAHAR

oleh Mahlail Syakur Sf.





Asal-Usul mBah Abdul Qahar
 
Mbah H. ABDUL QAHAR adalah salah satu putera dari mBah Yahya asli Mutih (Mutih Kulon, salah satu desa di Kecamatan Wedung Kabupaten Demak), sedangkan ibunya berasal dari desa Karangaji (Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara) berseberangan dengan desa Mutih. Sejak  menikah mBah Yahya menetap di Karangaji Jepara dan menjadi Lurah (Kepala Desa) di sana. 
 
 
Masa kecil mbah Qahar (panggilan mBah K.H. Abdul Qahar) dilalui dengan penuh sahaja di lingkungan keluarga petani hingga beliau dewasa belajar di Pondok Wetan Banon,[1] Salafiyah (dulu: Taman Pendidikan Tamrinul Huda). Pesantren yang didirikan pada tanggal 12 Mei 1902 ini diasuh oleh mBah K.H. Sirodj putera K.H. Ishaq.  Menurut sebagian informasi, K.H. Sirodj adalah salah seorang santri mBah K.H. A. Mutamakkin Kajen. Menurut informasi lainnya, bahkan beliau adalah ulama besar dan ilmuan ternama sebagai cucu ke-7/ keturunan mBah K.H. Ahmad Mutamakkin.[2]
Mbah Sirodj pada masanya termasuk salah seorang pelopor berdirinya Nahdlatul Ummah, yaitu semacam majelis para ‘ulama untuk wilayah Jawa Tengah. Sedangkan salah satu santrinya, yaitu mBah Bisyri Sansuri (saudara ipar dari mBah Wahab Jombang) mendapatkan mandat untuk melanjutkan organisasi tersebut. Bahkan bersama mBah K.H. Hasyim Asy’ari organisasi ini mengalami perkembangan yang maju pesat dan beralih nama menjadi Nahdlatul Ulama (NU) yang mempunyai jangkauan sangat luas untuk kalangan ulama di Indonesia.
Embrio Pondok Kajen Wetan Banon merupakan bentuk kepedulian K.H. Sirodj untuk meneruskan perjuangan Syekh Mutamakkin dalam menegakkan kebenaran agama Allâh. Pada masanya, karena beliau sebelumnya seorang saudagar kaya raya, maka sangat mudah untuk mendirikan beberapa pondokan dan satu musholla. Musholla di depan rumahnya (kini ditempati oleh keluarga mBah Masrukhin) merupakan tempat pada mana masyarakat menimba ilmu dari beliau. Tempatnya yang pinggir jalan persis membuat orang mudah mengenalnya, ditambah dengan bangunan besar dari kayu di seberang jalan, K.H. Sirodj memulai pengajian-pengajian tentang keagamaan dan kemasyarakatan.
Pondok Wetan Banon ini dipegang oleh K.H. Sirodj selama 26 tahun dalam kondisi ketegangan politik oleh kolonial Belanda. Sepeninggal K.H. Sirodj (wafat pada tahun 1928 M./ 1347 H.) Pondok Wetan Banon diasuh oleh kedua puteranya, yaitu K.H. Baedlowie dan K.H. Hambali.
Tepatnya pada tanggal 1 Januari 1935 barulah duet kepemimpinan tersebut membuka madrasah yang dinamakan “Madrasah Salafiyah”.[3] Menurut riwayat lain, Pondok tersebut kemudian diberi nama “Madrasah Salafiyyah” secara resmi oleh K.H. Baedlowie Sirodj pada tanggal 1 januari 1933.[4]
Madrasah Salafiyah ini dibangun di samping rumah dan Pondok Wetan Banon bagian timur yang kebetulan K.H. Sirodj memberikan tanah itu untuk dikelola oleh K.H Baedlowie. Namun sejak masa pendudukan fasis militer Jepang (1942) madrasah ini ditutup sementara. Setelah situasi tanah air mengijinkan pada tahun 1945 madrasah Salafiyah Kajen dibuka kembali di bawah asuhan K.H. Baedlowie dibantu K.H. Hamzawie dan angkatan mudanya. Pada tanggal 2 Pebruari 1981, Pondok Salafiyah dijadikan Yayasan yang diberi nama “Yayasan Assalafiyah” yang berkedudukan tetap di RT 01/ RW I Kajen Timur, kecamatan Margoyoso, kabupaten Pati, Jawa Tengah.. Untuk pertama kalinya, Yayasan ini diketuai oleh mBah K.H. Faqihuddin yang juga menjadi pengasuh Pondok Salafiyah karena mBah K.H. Baedlowi mendahului mereka dipanggil oleh Allâh (pada waktu shubuh, hari Jumâ’at Pahing, tanggal 3 Ramadlan 1402 H./ 25 Juni 1982) sebelum memimpin yayasan tersebut. Sementara itu jabatan sekertaris dipercayakan kepada saudara sepupunya, K. Muhammad Masrukhin dan dibantu oleh saudara-saudara yang lain, baik dari keturunan mBah K.H. Abdul Qahar seperti mBah K.H. Baidlowie maupun Nyai. Hj. Fathmah.
Perjalanan dan kehidupan mbah Qahar selama mengenyam pendidikan di Pondok Wetan Banon dilaluinya dengan penuh ketekunan (riyadlah, ijtihad, dan ishthibar), hingga beliau diambil menantu oleh mBah Sirodj yang dinikahkan dengan puteri pertamanya bernama Halimah.
Dalam kurun waktu kurang lebih enam tahun mBah K.H. Abdul Qahar muqim di Makkah. Teman seperjuangan beliau di antaranya adalah mBah Syafa’ (Kaliwungu Kendal). Selain mempelajari ilmu Syari’at Islam beliau juga menjadi badal (pengganti, asisten) Syekh Mukhtar (asli Gresik) sebagai Panitia Penyelenggara Haji. Pada masa itu beliau mengajak turut serta mBah Sirodj (morotuo), Mbah Jah (red: Khadijah), mBah Halimah, dan mBah Abdul Bari. Menurut keterangan mBah Rukhin, ketika muqim di Makkah mBah Halimah melahirkan seorang putera namun sesaat setelah dilahirkan beliau meninggal yang diberi nama Ahmad.
Sebagai salah satu menantu dari mBah Sirodj, mBah Qahar juga aktif membimbing santri di pondok Salafiyah, selain mBah Baidlowi dan mBah Hambali[5]. Beliau dikenang sebagai seorang yang disiplin dan adil. Selain mengajar di pondok mBah K. Qahar juga mempunyai usaha dagang kayu jati. Setelah mbah Sirodj meninggal dunia mBah Jah tinggal bersama dengan mBah Khozin putra mBah Fatmah,
Hidup di zaman penjajahan Jepang, meskipun seorang wanita, tidak membuat mBah Halimah isteri mBah Qahar merasa takut untuk melawan ke-mungkaran. Selain itu, beliau juga sangat memahami setiap perbedaan karakter di antara putra-putrinya. Beliau aktif dalam mengajarkan membaca al-Qur`an (qira`ah al-Qur`ân) dan dikenal sebagai ahli riyadlah (Jawa: tirakat), bahkan diyakini beliau mempunyai keistimewaan yaitu piawai dalam pengobatan alternatif seperti menyapih bayi atau merencanakan kehamilan secara alami.


Estafeta Pengabdian dalam Perjuangannya
Usaha dan peranan mBah K.H. Abdul Qahar dalam membangun negara dan bangsa melalui dunia pendidikan dan pengajaran cukup baik dan berarti. Perjuangan mBah K.H. Abdul Qahar dalam menyebarkan ajaran (syari’ah) Islam melalui lembaga pendidikan tidak berhenti begitu saja ketika beliau wafat, karena estafeta perjuangannya masih dan terus dilanjutkan oleh putera-puterinya.
Secara kolektif dan estafet perjuangan beliau tetap berjalan hingga kini, yang dapat dilihat dalam kiprah para puteranya sebagai berikut.

1.      Mbah Abdul Bari
Sebagai putera pertama mbah Abdul Qahar, mBah K. Abdul Bari dikenal sebagai figur tokoh yang mempunyai sifat sederhana dan santai dalam menjalani hidupnya, bahkan dikenal sangat sabar dalam menerima berbagai ujian dan cobaan.[6]
Di masa kecilnya (kira-kira umur 4 tahun) sudah diajak mengikuti kegiatan ibadah haji bersama dengan mBah Qahar dan mBah Halimah. Sedangkan adik lelakinya (nama Ahmad) meninggal dunia di Mekkah sesaat setelah dilahirkan. Dengan demikian mBah K. Abdul Bari mempunyai dua adik, yaitu Ahmad yang meninggal di Mekkah setelah dilahirkan beberapa saat kemudian, dan mBah Shalihah yang meninggal dunia setelah melahirkan anak pertama bernama Nur Hamid.
Pada masa sekolah mBah K. Abdul Bari dikenal sering kurang memperhatikan pelajaran di sekolahnya, bahkan terkadang tertidur di ruang kelas sementara teman-temannya telah pulang. Meski demikian, di saat beliau dalam keadaan tidur pembelajaran di perolehnya dari tugasnya sebagai badal (asisten) mBah Sirodj, bahkan beliau dikenal sebagai figur seorang kyai yang mendapatkan ilmu ladunni[7], mampu membaca teks Arab (Kitab Kuning) dan memahaminya tanpa diketahui kapan dan kepada siapa beliau mempelajarinya.
Beliau menikah dengan mbah Sudarni dari Ngembalrejo Kudus, hingga beliau menetap di desa ini. Dan dengan berbekal mushalla al-Hadi yang  dibangun oleh orangtua (mushaharah)nya, mBah H. Nur Hadi, beliau mendirikan Pondok Pesantren Darus Sa’adah sebagai media untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama (syari’ah) Islam kepada masyarakat di daerah sekitar sekaligus sebagai cara melanjutkan estafeta perjuangan mBah K.H. Abdul Qahar pada pengembangan pendidikan. mBah Abdul Bari wafat pada hari Ahad Legi, tanggal 15 Rajab 1423 H./ 21 September 2011. 

2.      Mbah Hadziq Sirodj
MBah Hadziq Sirodj dikenal disiplin dalam menjalani keseharian. Alumni IAIN (sekarang: STAIN) Kudus ini juga mondok [8] di mBah K. Hambali Jekulo.  Beliau, mBah Dziq menikah dengan mbah Hamdah Marfu’ah dari Tayu.
Dengan berbekal keaktifan beliau di organisasi NU dan partai (PPP) sehingga mengantarkan beliau menjadi anggota dewan untuk daerah Kabupaten Pati meskipun hanya satu periode. Beliau juga berperan sebagai Kepala Sekolah di Madrasah Salafiyah di masa awal pendirian hingga beberapa periode.

3.      Mbah Masrukhin
Mbah Masrukhin di masa mudanya pernah mondok di Joso Kediri, Lirboyo Kediri, Kaliwungu Kendal, bahkan Jekulo (kepada mBah Hambali). Secara praktis beliau mengabdikan diri pada masyarakat, di antaranya pernah tinggal di beberapa daerah dengan mempelopori pendirian madrasah, seperti di Kemangsen Krian dan Ambulu Jember.
Beliau menikah dengan mBah Nok Dzurriyyah (Tayu) yang merupakan santri dari pondok Salafiyah. Selain aktif sebagai pengajar, mBah Rukhin juga termasuk salah satu pelopor pendirian Yayasan As-Salafiyah bersama dengan mBah Baidlowi dan mBah Hadziq Sirodj.

4.      Mbah Mas’amah
Mbah Mas’amah, puteri mbah Qahar yang alumni SMI (Sekolah Menengah Islam, kemudian berubah nama menjadi PGIP) ini termasuk perintis Madrasah Banat Mathali’ul Falah bersama mbah Zuyyinah (istri mbah Ali Mukhtar).
Mbah Amah menikah dengan mbah K. A. Suyuthi (dari Demak) yang seorang berprofesi sebagai penulis teks Arab kitab-kitab kuning yang ditulis oleh para kyai. Salah satu kitab yang ditulis khath Arabnya adalah Tafsir al-Ibriz karya mBah K. H. Bisyri Musthofa Rembang yang sangat terkenal hingga kini.


5.      Mbah Muzammil
Mbah Muzammil, putra bungsu dari mbah Qahar ini menikah dengan mbah Mustabsyiroh asli (Karangaji). Belaiu menimba ilmu di Denanyar Jombang (pesantren Gus Dur) dan secara formal belajar di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sebelum tinggal dan mengajar di Kajen beliau tinggal di Karangaji Jepara sehingga pengabdian beliau juga terukir di wilayah Jepara tersebut.    

Adapun keluarga anak-anak mBah Abdul Qahar serta anak-cucunya hingga kini (1 Syawwal 1436 H./ 17 Juli 2015 M.) berjumlah 79 orang sebagaimana dapat dilihat pada lembar / halaman berikut ini. Dengan demikian keluarganya laik disebut sebagai Keluarga Besar.  #


[1] Di sisi lain ada istilah Kulon Banon. Penamaan Kulon dan Wetan Banon ini disandarkan pada letak posisinya dari makam Kanjengan, yaitu makam dekat pesarean Syekh Mutamakkin yang diyakini sebagai makam para ningrat Pati. Keberadaan makam tersebut dikelilingi oleh tembok besar (Banon) sebagai kompas bagi masyrakat Kajen untuk menyebut pesantren yang berdiri hampir bersamaan itu. Keturunan ketiga bani (Bani Sirodj, Bani Nawawi, dan Bani Salam) kini mempunyai pengaruh besar di desa Kajen.
[2] http://salafiyahkjn.blogspot.com (Selasa, 9 September 2008). Atau http://www.pelita.or.id/cetakartikel.php?id=79917 (20 Agustus 2012).
[3] Madrasah ini dibangun tiga tahun setelah Madrasah Matholiul Falah yang didirikan oleh K.H. Thohir, K.H. Durri, K.H. Mahfudz, dan K.H. Abdullah Salam dari Kajen Kulon Banon dan Polgarut.
[4] Lihat Ana Nailu Rohmah, Descriptive Study on Teaching Writing to the First Year Student’s of MTs Salafiyah Kajen Margoyoso Pati, (Surakarta: School of Teacher Training and Education Muhammadiyah University of Surakarta, Research Paper, 2012), h. 5.
[5] Berkeluarga di Bareng Jekulo Kudus setelah fasi militer Jepang pada tahun 1942, dan wafat di desa tersebut.
[6] Menurut tutur sebagian dari para keponakannya, setelah menjalani operasi beliau ditanya oleh saudara-saudaranya di Kajen “Jarene Pak Dhe Dul ba’da operasi?”. Beliau pun dengan tenang dan nyantai menjwab: “Sopo leh sing kondho? Wong sehate ngene kok  jare lara. Gak opo-opo, lho sehat”.
[7] Yaitu ilmu yang diterima langsung dari Allâh dan dimiliki tidak melalui proses belajar (bighair ta’allum) sebagaimana yang terjadi pada umumnya.
[8] Bahasa Jawa yang berarti menjadi santri pondok pesantren.

Bani Abdil Qahar - Kajen


Hakekat Bani Abdil Qahar: Re-Uni


Melihat jumlah anggota keluarga mBah Abdul Qahar dan mBah Halimah yang pada Halal bi-Halal secara formal yang pertama, tanggal 2 Syawwal 1431 H./ 11 September 2010 M., relatif besar, yaitu 68 orang, dan kian bertambah, maka sebagian cucu dari mBah Abdul Qahar dan mBah Halimah berembug untuk mengadakan pertemuan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Rembugan  tersebut berlangsung di rumah mBah Rukin usai ta’ziyah atas kematian Saudara kita Hamdan bin Abdul Wahhab al-marhum wal-maghfur lahu sebelum Ramadlan tahun ini. Mereka bersepakat untuk mengadakan kumpulan (reuni) pada setiap tanggal 2 Syawwal yang dimulai pada bulan Syawwal 1431 H./ 2010 di rumah di rumah cucu tertua, mBak/ Dhe Hj. Chol  (Hj. Cholifatur Rosyidah isteri K.H. Ahmad Nasichun) dari anak mBah Abdul Qahar yang tertua, yaitu mBah K. Abdul Bari. 
Hakekat pertemuan Bani Abdil Qahar adalah ngumpulake balung kang kececer hingga dapat diketahui identitas masing-masing. Semua kita telah menyadari bahwa kesibukan dan perbedaan pekerjaan telah menjadikan sulitnya pertemuan dan shilaturrahim di antara anggota keluarga Bani Abdil Qahar di era teknologi yang serba canggih ini kecuali hanya antar sedikit orang atau sekadar melalui alat komunikasi. Untuk itulah diperlukan sarana dan media yang efektif untuk berkomunikasi terutama bagi generasi muda, seperti pertemuan berkala dengan memanfa’atkan momentum ‘Idul Fitri dan buku catatan sebagai direktori keluarga Bani Abdil Qahar.




Usaha ini dilakukan dengan tiada tujuan lain kecuali untuk melihat realitas dan kondisi obyektif di lapangan bahwa manusia diciptakan oleh Allâh bersuku-suku dan berkelompok adalah agar saling mengenal sebagaimana digariskan dalam al-Qur`ân surat al-Hujurat ayat 13: 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا  
(Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. ...).

=========MS2F========