KETURUNAN
MBAH
ABDUL QAHAR
Yang
dimaksud dengan “keturunan” dalam tulisan ini adalah seluruh keluarga yang
berasal dari mBah K.H. Abdul Qahar dan isterinya, mBah Hj. Halimah, yang
meliputi anak-anak, cucu, dan anak-cucunya.
Al-Qur`ân
menyebut “keturunan” dengan istilah dzurriyyah (ذرّيّة) yang berarti “keturunan”[1], dan terma bani (بني) yang berarti anak-cucu[2]. Dalam al-Qur`ân setidaknya
terdapat 28 kata dzurriyyah dalam bentuk tunggal (mufrad) dan
tiga kali dalam bentuk plural (jama’). Dalam konteks ini terma yang
dipergunakan untuk menyebut keturunan mBah Abdul Qahar adalah terma BANI
sebagaimana yang lazim berlaku di Indonesia, karena lebih mudah diucapkan dan
memiliki makna yang paling dekat dengannya.
Sebagai
pasangan manusia yang sehat jasmani-ruhani, mBah Abdul Qahar menjalankan tugas
kemanusiaannya secara fithriyyah hingga mempunyai keturunan yang banyak
jumlahnya. Fithrah mana seperti tersebut dalam firman Allâh:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ... (النساء: 1)
[3]
[3]
(Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari
seorang diri, dan dari padanya Allâh menciptakan isterinya; dan dari pada
keduanya Allâh memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. …)
Berdasarkan
keterangan dan pengakuan para cucunya, mBah Abdul Qahar yang beristeri mBah Hj.
Halimah dikaruniai tujuh anak yang masing-masing telah berkeluarga dan
mempunyai cucu, kecuali Ahmad. Ketujuh anak mBah Abdul Qahar seluruhnya
adalah mBah ABDUL BARI,
mBah
AHMAD[4], mBah
SHALIHAH[5], mBah
HADZIQ SIRODJ, mBah MUHAMMAD MASRUKHIN, mBah MAS’AMAH, dan mBah MUZAMMIL.
Dari
mereka itulah kini mBah Abdul Qahar telah mempunyai banyak keturunan (bani,
dzurriyyah, anak-cucu) yang jumlahnya relatif banyak sebagaimana
dapat diketahui dalam lembar-lembar berikut ini.
6
-------------------
[2] Misalnya: bani Adam (بني آدم)
berarti anak-cucu Adam (manusia), dan bani Isra-il (بني إسرآئيل)
yang sering disebut dalam al-Qur`ân..
[4] Meninggal di Mekkah setelah
dilahirkan beberapa saat kemudian.
[5] Beliau menikah dengan mbah Supardi
asli Waturoyo Pati. Tidak banyak cerita yang bisa terekam mengenai mBah Shol
karena setelah sepekan beliau melahirkan putera pertamanya (Noor Hamid, yang
kini, menurut cerita, hidup di Kalimantan sebagai guru bersama isterinya yang
berasal dari Blora), beliau meninggal dunia dengan tenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar